PEMBELAJARAN INTERAKTIF, INSPIRATIF, MENYENANGKAN, MENANTANG, DAN MEMOTIVASI PESERTA DIDIK (I2M3)

PENDAHULUAN

Pada tahun 2005, Pemerintah mengelurakan Peraturan Pemerintah nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar Nasional Pendidikan meliputi 8 (delapan) standar, yaitu: (1) standar isi; (2) standar proses; (3) standar kompetensi lulusan; (4) standar pendidikan dan tenaga kependidikan; (5) standar sarana dan prasarana; (6) standar pengelolaan; (7) standar pembiayaan; dan ( 8 ) standar penilaian. Standar-standar tersebut adalah standar minimal. Artinya satuan pendidikan dapat mencapai standar yang lebih tinggi dari standar nasional tersebut.

Standar yang tercantum dalam PP tersebut masih bersifat global. Untuk memerincinya diperlukan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (permendiknas) . Karena jumlah standar nasional ada delapan, minimal dibutuhkan delapan Permendiknas. Saat itu (2005) belum satupun Permendiknas yang dihasilkan. Padahal Pemerintah mengharap setiap satuan pendidikan segera menyusun program untuk mencapainya. Sebagai pedoman sementara, sampai Permendiknasnya dikeluarkan, Pemerintah menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mempercepat terlaksananya standar nasional pendidikan. Diantaranya, meluncurkan program rintisan sekolah standar nasional (SSN) dan sekolah berstandar internasional (SBI) , serta mengeluarkan Permendiknas untuk delapan standar nasional. Program SSN dan SBI dikompetisikan. Setiap satuan pendidikan yang siap, dapat mengajukan ke Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota untuk diusulkan ke Depdiknas. Depdiknas akan menurunkan tim untuk menverifikasinya. Sekolah yang lolos verifikasi, ditetapkan sebagai sekolah rintisan SSN. Sekolah rintisan SSN akan mendapat bantuan program dan fisik (bangunan dan isinya) agar cepat mencapai standar nasional

Permendiknas mulai dihasilkan pada tahun 2006, yaitu dengan dikeluarkan Permendiknas nomor 22 tentang standar isi, nomor 23 tentang standar kompetensi lulusan, dan 24 tentang pelaksanaannya. Permendiknas nomor 22, dan 23 mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan untuk menyusun kurikulum satuan pendidikannya sendiri-sendiri, yang dikenal dengan istilah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Namun perlu diingat, Permendiknas tersebut hanya memberikan rambu-rambu tentang standar isi dan standar kompetensi lulusan atau kurikulumnya. Bagaimana proses pembelajaran dan penilaiannya, masih diperlukan dua Permendiknas lagi, yaitu Permendiknas tentang standar proses dan Permendiknas tentang standar penilaian. Baru pada tahun 2007, dikeluarkan Permendiknas nomor 20 tentang standar penilaian, dan Permendiknas nomor 41 tentang standar proses. Permendiknas nomor 41, memberikan rambu-rambu proses pembelajaran pada KTSP, dan Permendiknas nomor 20 memberikan rambu-rambu penilaian KTSP. Fokus tulisan ini adalah memberikan deskrispsi proses pembelajaran yang mengacu pada Permendiknas nomor 41 tahun 2007.

PEMBELAJARAN I2M3

Pembelajarana I2M3 adalah pembelajaran yang berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (PP 19/2005, pasal 19 ayat 1). Pembelajaran I2M3 dimulai membuat perencanaan. Perencanaan berupa silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pelaksanaan pembelajaran I2M3 mengacu pada ketentuan-ketentuan sebagai berikut: (1) jumlah siswa per rombongan belajar (kelas) untuk SD/MI maksimal 28 siswa, SM/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK maksimal 32 siswa; (2) beban mengajar guru sekurang-kurangnya 24 jam, yang meliputi kegiatan pokok merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, serta melaksanakan tugas tambahan lainnya (Permendiknas nomor 41/2007).

Ditinjau dari sisi pengelolaan kelas, dalam pembelajaran I2M3 tampak sebagai berikut: (1) guru mengatur tempat duduk sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan; (2) volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik; (3) tutur kata guru santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik; (4) guru menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik; (5) guru menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran; (6) guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respon dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung; (7) guru menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan satus sosial ekonomi; ( 8 ) guru menghargai pendapat peserta didik; (9) guru memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi; (10) pada tiap awal semester, guru menyampaikan silabus mata pelajaran yang diampunya; dan (11) guru memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan (Permendiknas nomor 41/2007).

Pelaksanaan pembelajaran I2M3, dibagi menjadi 3 babak, yaitu kegitan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; (2) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; (3) menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan (4) menyampaikan cakupan materi dan menjelaskan uraian kegitan sesuai silabus.

Kegiatan inti meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Dalam kegiatan eksplorasi guru melakukan hal-hal sebagai berikut; (1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber; (2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain; (3) menfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara pendidik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; (4) melibatkan pesertaa didik secara aktif dalam setiap kagitan pembelajaran, dan (5) menfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Pada tahap elaborasi, guru melakukan hal-hal sebagai berikut: (1) membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; (2) memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; (3) memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan msalah, dan bertindak tanpa rasa takut; (4) memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; (5) memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; (6) menfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individu maupun kelompok; (7) menfasilitasi peserta didik untuk manyajikan hasil kerja individual maupun kelompok; ( 8 ) menfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan; (9) menfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.

Dalam kegiatan konfirmasi, guru: (1) memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah teerhdap keberhasilan peserta didik; (2) memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi pesertadidik melalui berbagai sumber; (3) memfasilitasi peserta didik melakukan rfleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan; dan (4) menfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar, sehingga guru berfungsi: sebaga nara sumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yanag baku dan benar; membantu menyelesaikan masalah; memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

Dalam kegiatan penutup guru: (1) bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; (2) melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dn terprogram; (3) memberikan umpan balik baik proses dan hasil pembelajaran; (4) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remidi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individu maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan (5) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

MENGIMPLEMENTASIKAN PEMBELAJARAN I2M3

Merubah Paradigma Belajar dan Pembelajaran.

Agar pembelajaran I2M3 dapat diimplementasikan dalam praktik pembelajaran di kelas, langkah pertama adalah merubah paradigma guru terhdap belajar dan pembelajaran, dari behavioristik ke konstruktivistik. Perubahan paradigma ini sangat esensial karena berkaaitan dengan sikap dan pendangan guru terhadap belajar dan pembelajaran itu sendiri. Mustahil pembelajaran I2M3 ini dilaksanakan, jika guru masih menggunakan paradigma behavioristik.

Belajar menurut aliran behavioristik adalah “perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon” (Irawan, at all, 1995:2). Dengan model stimulus-responnya, teori behavioristik menempatkan siswa yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon yang berupa perilaku tertentu dapat dibentuk karena siswa dikondisikan dengan cara tertentu dengan menggunakan metode drill (pembiasaan) semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat manakala diberikan reinforcement/penguatan dan akan menghilang bila dikenai punishment/hukuman (Degeng, 2001:23)

Belajar menurut teori behavioristik adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu bila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Yang terpenting, menurut teori ini adalah masukan/input yang berupa stimulis dan keluaran/output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi di antara stimulus dan respon itu dianggap tak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang bisa diamati hanyalah stimulus dan respon. Faktor lain yang penting dalam teori behavioristik adalah pentingnya faktor penguatan (reinforcement) dan hukuman (punishment). Bila penguatan ditambah, maka respon akan semakin kuat. Begitu sebaliknya jika penguatan dikurangi, maka respon akan berkurang (Irawan, 1995:23).

Degeng (2001:24-28) membuat intisari teori behavioristik dari beberapa aspek. Pertama, teori behavioristik memandang pengetahuan adalah obyektif, pasti, dan tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur rapi. Belajar adalah memperoleh pengetahuan. Mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. Siswa diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Apa yang dipahami oleh pengajar, itulah yang harus dipahami oleh siswa. Sedangkan fungsi mind/otak adalah menjiplak pengetahuan yang diajarkan. Kedua, teori behavioristik menempatkan keteraturan, kepastian, dan ketertiban sebagai hal yang esensial. Siswa harus dihadapkan pada atauran-aturan yang jelas dan ditetapkan lebih dulu secara ketat. Ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa adalah obyek yang harus berperilaku sesuai dengan aturan. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial. Ketiga, kaum behavioris memandang kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikatagorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikatagorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Kontrol belajar berada pada sistem yang berada di luar siswa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa teori belajar behavioristik mempunyai ciri-ciri: (1) seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu menunjukkan perubahan perilaku yang dapat diamati (observable) dan diukur (measurable); (2) Perubahan perilaku tersebut ditunjukkan dengan kemampuan melakukan respon terhadap rangsangan (stimulus) yang diberikan; (3) untuk meningkatkan perubahan perilaku positif, pebelajar diberi hadian/reward, dan hukuman/punishmen diberikan agar perilaku negatif tidak diulangi; (4) hadiah dan hukuman biasanya berbentuk aturan atau tata tertib yang harus ditegakkan di atas segala-galanya; (5) Aturan atau tata tertib diharapkan mampu membentuk kebiasaan belajar; dan (6) agar semuanya berjalan baik, maka keseragaman menjadi kunci utamanya.

Pembelajaran behavioristik menurut Degeng (2001:28-30) ada beberapa ciri. Pertama, tujuan pembelajaran ditekankan pada penambahan pengetahuan, yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajarinya dalam bentuk kuis, tes, atau laporan. Ke dua, penyajian isi menekankan pada ketrampilan yang terisolasi dan akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian-ke-keseluruhan. Ke tiga, pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat. Ke empat, aktivitas pembelajaran lebih banyak didasarkan pada buku teks dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks, Ke lima, pembelajaran menekankan pada hasil. Ke enam, evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan tes tertulis. Evaluasi menuntut satu jawaban benar. Evaluasi dipandang sebagai bagian terpisah dari kegiatan pembelajaran dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan belajar dengan penekaanan pada evaluasi individu.

Pembelajaran yang menerapkan teori behavioristik biasanya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: (1) menentukan tujuan pembelajaran; (2) menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi entry behaviour atau pengetahuan awal siswa; (3) menentukan materi pelajaran; (4) memecah mteri pelajaran menjadi bagian kecil-kecil (sub pokok bahasan atau sub topic); (5) menyajikan materi pelajaran; (6) memberi stimulus yang dapat berupa: pertanyaan lisan atau tulis, tes, latihan, dan tugas; (7) mengamati dan mengkaji respon yang diberikan; ( 8 ) memberi penguatan (baik penguatan positif maupun negative); (9) memberikan stimulus baru; (10) mengamati dan mengkaji respon yang diberikan dalam bentuk evaluasi hasil belajar; (11) memberikan penguatan (Irawan, 1995:23)

Gagasan belajar konstruktivis menurut Von Glassersfeld (dalam Suparno, 1997:24) bermula pada tulisan Mark Baldwin yang secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget. Namun bila diterlusuri lebih jauh, gagasan pokok konstruktivisme sebenarnya sudah dimulai oleh Giambatissta Vico, seorang epistemolog dari Itali. Dialah cikal bakal konstruktivisme. Vico mengungkapkan bahwa Tuhan adalah pencipta alam dan manusia adalah tuan dari ciptaannya. Cukup lama gagasan Vico tidak diketahui orang dan seakan terpendam sampai Piaget menulis gagasan konstruktivisme dalam teori tentang perkembangan kognitif. Piaget mengungkapkan teori adaptasi yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh dari adaptasi struktur kognitif terhadap lingkungan. Gagasan Peaget ini lebih cepat tersebar dibanding gagasan Vico (Suparno, 1997:25)

Piaget (dalam Dahar, 1988:181-182) mengemukakan bahwa perkembangan intelektual seseorang melalui dua proses, yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi adalah kemampuan untuk mensistematikkan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sitem yang teratur dan berhubungan atau struktur-struktur. Adaptasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan penyesuaian dengan lingkungannya. Adaptasi dilakukan melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi dilakukan apabila informasi yang diterima sesuai dengan struktur pengetahuan yang dimiliki, sehingga memperkuat struktur yang ada. Akomodasi dilakukan apabila informasi yang diterima tidak sesuai dengan struktur pengetahuan yang dimiliki. Apabila seseorang tidak dapat melakukan asimilasi, maka dalam dirinya terjadi “disequilibrium” atau ketidakseimbangan. Akibat ketidakseimbangan ini, seseorang melakukan akomodasi sehingga struktur-struktur yang sudah ada mengalami perubahan dan struktur baru terbentuk. Struktur baru tersebut merupakan perkembangan intelektual. Perkembangan intelektual merupakan proses terus menerus akibat adanya proses ketidakseimbangan-keseimbangan (disequilibrium-equilibrium). Bagi Piaget, mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual yang dengannya pengalaman-pengalaman dan ide-ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui oleh seseorang yang sedang belajar untuk membentuk struktur pengetahuan baru (Suparno, 1997:33)

Bruner (dalam Dahar, 1988: 119) dikenal dengan teroi belajar penemuannya (Discovery Learning). Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalaui berpartisipasi secara aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip melalui eksperimen-eksperimen. Siswa berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Belajar penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, dan memotivasi untuk bekerja terus sampai menemukan jawaban-jawaban. Ia menyarankan agar penggunaan belajar penemuan ini hanya diterapkan sampai batas-batas tertentu, yaitu dengan mengarahkan pada struktur bidang studi.

Vigotsky, adalah salah satu tokoh yang dikenal dengan konsruktivis sosial (Suparno, 1997:45). Ia mengemukakan beberapa teori yang berkaitan dengan konstruktivis sosial, yaitu: (1) hakekat sosial dalam belajar; (2) zone of proximal development (ZPD); (3) pemagangan kognitif; dan (4) scafolding (Nur, 2004:5). Teori hakekat sosial dalam belajar menyatakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya yang lebih mampu. Zone Of Proximal Development (ZPD) atau zona perkembangan terdekat adalah suatu ide bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona perkembangan terdekat mereka. Siswa terlibat dalam zona perkembangan terdekat apabila terlibat dalam tugas-tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri tetapi dapat menyelesaikannya bila dibantu oleh teman sebaya mereka atau orang dewasa. Pemagangan Kognitif mengacu pada proses dimana seseorang yang sedang belajar secara bertahap mempeeroleh keahlian dalam interaksinya dengan seorang pakar. Pakar itu bisa orang dewasa atau orang yang lebih tua atau kawan sebaya yang telah menguasai permasalahan. Scafolding (Mediated Learning) adalah belajar dengan panduan atau media, dimana guru memandu pengajaran sedemikian rupa sehingga siswa akan menguasai tuntas dan mendarahdagingkan ketrampilan-ketrampilan yang memngkinkan penfungsian kognitif yang lebih tinggi.

Degeng mengemukakan beberapa pandangannya tentang konstruktivis. Menurut Degeng (2001: 25-27) pengetahuan adalah non obyektif, temporer, selalu berubah, dan tidak menentu. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar adalah menata lingkungan agar siswa termotivsi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Siswa dapat memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pengalaman, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya. Otak (mind) berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasikan peristiwa, obyek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga maknayang dihasilkan bersifat unik dan individualistik. Penataan lingkungan belajar bercirikan: (1) ketidakteraturan, ketidakpastian, kesemrawutan; (2) siswa harus bebas, kebebasan adalah unsur esensial dalam belajar; (3) Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidak kemampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai; (4) kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. (5) Siswa adalah subyek yang harus mampu menggunakan kebebesan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar; (6) kontrol belajar dipegang oleh siswa.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan tentang teori belejar konstruktivis, yaitu: (1) belajar sangat ditentukan oleh kemampuan pebelajar untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan/informasi yang dipelajari; (2) kontruksi pengetahuan terjadi pada kognisi pebelajar dengan cara asimilasi dan akomodasi melalui proses ketidakseimbangan menuju keseimbangan kognitif; (3) belajar dengan cara menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari akan memberikan pengalaman yang bermakna; (4) agar proses menemukan berjalan baik perlu ada bantuan dari orang yang punya kemampuan setingkat lebih tinggi; (5) belajar melalui kelompok-kelompok kecil dengan kemampuan heterogen akan mempercepat proses belajar; (6) karena kemampuan mengkonstruksi tiap pebelajar berbeda, maka pemaknaan terhadap suatu pengetahuan akan unik dan berbeda untuk setiap pebelajar; (7) dengan demikian penialain dengan tes yang menuntut satu jawaban benar tidak cocok. Penilaian yang cocok adalah penilaian yang berkelanjutan dengan menggunakan berbagai teknik seperti portofolio, kinerja., produk, dan proyek.

Pembelajaran yang konstruktivis dapat dilihat dari ciri-ciri gurunya. Brooks dan Brooks (1993:101-116) mengemukakan ada dua belas ciri guru konstruktivis, yaitu: (1) mendorong dan menerima otonomi dan inisiatif siswa; (2) menggunakan sumber primer dan materi manipulatif dan interaktif; (3) jika memberi tugas, guru konstruktivis menggunakan kata kerja operasional seperti mengklasifikasi, menganalisis, mempridiksi, dan berkreasi; (4) mengijinkan siswa untuk memberi tanggapan terhadap materi pelajaran, dan strategi pembelajaran; (5) mencari tahu sejauh mana pemahaman siswa terhadap suatu konsep, sebelum berbagi pemahamannya tentang konsep tersebut; (6) mendorong siswa untuk berdialog dengan guru dan nara sumber lain; (7) mendorong siswa melakukan inquiry melalui saling mengajari, memberi pertanyaan terbuka; dan bertanya satu sama lain; ( 8 ) melakukan elaborasi atas respon yang diberikan oleh siswa; (9) menggunakan pengalaman siswa yang bisa menimbulkan kontradiksi sebagai suatu hipotesis awal dan mendorong terjadinya diskusi; (10) memberikan waktu yang cukup setalah memberi pertanyaan; (11) menyediakan waktu yang cukup bagi siswa untuk membangun hubungan-hubungan dan mengkreasikan kesan; dan (12) memelihara keingintahuan siswa yang alamiah dengan sering menggunakan model siklus belajar.

Kamii (1977, dalam Dahar 1988:193-196) mengemukakan model konstruktivis dalam mengajar, yaitu: (1) siapkan benda-benda nyata untuk digunakan para siswa; (2) berbuat terhadap benda meliputi: berbuat terhadap benda dan melihat bagaimana benda itu beraksi, berbuat terhadap benda-benda untuk menghasilkan efek yang diinginkan, menjadi sadar bagaimana seorang menghasilkan efek yang diinginkan, dan menjelaskan; (3) perkenalkan kegiatan yang layak, dan menarik, serta berilah para siswa kebebasan untuk menolak saran-saran guru; (4) tekankan penciptaan pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah dan demikian pula pemecahan-pemecahannya; (5) anjurkan para siswa untuk saling berinteraksi.

Gambaran siswa yang belajar dalam suasana konstruktivis bagaikan air mengalir di sebuah sungai, mengalir, dinamis, penuh resiko, dan menggairahkan. Kesalahan, kreativitas, potensi, dan ketakjuban mengisi tempat itu. Mengajar diibaratkan bagai tukang bersih air sungai agar air dapat mengalir bebas hambatan. Tugas mengajar diibaratkan mengangkat sampah dan kotoran lain, mengeruk lumpur dan pasir, dan memindahkan batu dan kayu. Dari sungai sehingga air dapat mengalir dengan baik. Oleh karenanya ketulusan hati, kesetiaan, kemesraan, kesabaran, cinta, suka cita, improvisasi, pengendalian diri memenuhi pekerjaan mengajar. Mengajar hendaknya menggunakan bahasa cinta. Degeng (2005) menyatakan “janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun” (Degeng, 2007).

Degeng (2001:28-29) mengemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis ditinjau dari berbagai aspek. Pertama, tujuan pembelajaran ditekankan pada belajar bagaimana belajar. Ke dua, penyajian isi menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan-ke-bagian. Ke tiga, pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Ke empat, aktivitas pembelajaran lebih banyak didasarkan pada data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada ketrampilan berfikir kritis. Ke lima, pembelajaran menekankan pada proses. Ke enam, evaluasi menekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi, dengan menggunakan masalah pada konteks nyata. Evaluasi diarahkan untuk munculnya berfikir divergen, pemecahan ganda, dan bukan hanya satu jawaban benar. Evaluasi merupakan bagian utuh dari pembelajaran dengan memberikan tugas-tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata. Evaluasi menekankan pada keterampilan proses dalam kelompok.

Mengembangkan Metode Pembelajaran Inovatif

Pembelajaran I2M3 tidak dapat optimal jika guru menerapkan metode pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru (teacher center). Guru hendaknya mengembangkan metode atau model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), mengaitkan pembelajaran dengan dunia nyata siswa (contextual), siswa belajar memecahkan masalah dalam kehidupan nyata (Proble-base learning), dan siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif (cooperative learning). Metode atau model pembelajaran yang demikian biasanya disebut pembelajaran inovatif.

Pada saat ini, setidaknya ada 3 (tiga) model pembelajaran yang berkembang dalam praktik pembelajaran di Indonesia yang mengacu pada pembelajaran I2M3. Ketiga model pembelajaran itu adalah: (1) pengajaran langsung (direct instruction); (2) pembelajaran koperatif (cooperative learning); dan (3) pembelajaran berbasis masalah (problem base learning).

Model Pengajaran Langsung

Pengajaran langsung merupakan model pembelajaran yang berbasis teori behavioris. Nur (2005:19) meyetakan bahwa teori-teori pembelajaran perilaku telah memberikan sumbangan berarti pada pengajaran langsung. Teori-teori tersebut adalah operant conditioning dari B.F. Skiner dan teroi belajar sosial dari Bandura. Hal itu tampak pada sintaks model pengajaran langsung yang meliputi: (1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa; (2) mempresentasikan pengetahuan atau mendemonstrasikan keterampilan; (3) memberi latihan terbimbing; (4) mengecek pemahaman dan memberi umpan balik; dan (5) memberi latihan lanjutan dan transfer (Nur, 2005:36)

Pengajaran langsung, masih menjadi model paling banyak digunakan dalam praktik persekolah di Indonesia. Banyak guru menganggap model ini paling efektif untuk menjagajarkan materi. Namun perlu diingat model ini tidak dapat mengembangkan ketrampilan sosial dan berfikir tingkat tinggi. Nur (2005:17) menyatakan bahwa model pengajaran langsung cocok untuk mengajarkan pengetahuan yang terstruktur dengan baik dan diajarkan langkah demi langkah, dan tidak dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan berfikir tingkat tinggi.

Model Pembelajaran Koperatif

Pembelajaran koperatif merupakan model pembelajaran yang sedang digalakkan. Hampir di setiap penataran guru, model ini disosialisasikan. Sebagian besar guru telah mencoba model ini dalam pembelajarannya. Slavin (1994:287) menyatakan “cooperative learning refers to instructional mothods in which student work together in small group to help each other learn”. Hanya sayang banyak guru yang menafsirkan pembelajaran koperatif dengan diskusi kelompok. Padahal yang benar dalam pembelajaran koperatif siswa bekerja bersama (kerja kelompok) dalam kelompok kecil beranggotakan 4 sampai 6 siswa berkemampuan heterogen. Kelompok ini bekerja bersama, saling mengajari, dalam kurun waktu beberapa minggu atau bulan. Hal terpenting dalam pembelajaran koperatif adalah adanya saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan menjalin hubungan antar pribadi (Nur, 2004: 6).

Ada beberapa tipe pembelajaran koperatif yang dapat dipilih dalam pembelajaran, seperti student team achievement devision (STAD), jigsaw, team games tournament (TGT), number head together (NHT), cooperative scrip, Tink Pair Share (TPS), dan msih banyak lagi. Hal terpenting dalam memilih model pembelajaran koperatif adalah kesesuaian dengan kondisi. Kondisi tersebut meliputi: (1) karekteristik materi; (2) karekteristik siswa; (3) kompetensi yang hendak dicapai; dan (4) sarana dan prasaran yang mendukung.

Pembelajaran koperatif, menerapkan kaidah-kaidah konstruktivis, khususnya konstruktivis sosial dari Vigotsky. Hakekat sosial dalam belajar, ZPD, pemagangan kognitif, dan scafolding, yang merupakan ciri-ciri konstruktivis sosial berusaha dikembangkan dalam pembelajaran model ini. Namun jika kita cermati, masih ada satu ciri yang mengarah pada behavioristis, yaitu digunakannya kuis (dengan satu jawaban benar) pada beberapa tipe pembelajaran koperatif seperti STAD. Jigsaw, TGT, dan scrip cooperative.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah.

Pembelajaran berbasis masalah termasuk pembelajaran yang masih jarang diterapkan oleh guru. Pembelajaran ini tidak dapat diselesaikan dalam satu kali tatap muka, dan membutuhkan perencanaan yang matang. Borrow dan Tamblyn (dalam Delisle, 1997:3) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang hasilnya diperoleh dari proses bekerja ke arah pemahaman atau pemecahan masalah. Pembelajaran berbasis masalah merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, membangun prinsip-prinsip pembelajaran mengatur belajar sendiri (self-directed learning) dan mendorong pengembangan kecakapan pembelajaran sepanjang hayat (Baptiste, 2003:13).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang inovatif. Dasna dan Sutrisno (2008) yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah (Probelem-based learning), selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah. PBL adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pebelajar dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open ended melalui stimulus dalam belajar.

PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut: (1) belajar dimulai dengan suatu masalah, (2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa, (3) mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu, (4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada pebelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut pebelajar untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja. Berdasarkan uraian tersebut tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. (Dasna dan Sutrisno, 2008)

Ditinjau dari sudut guru, Delisle (2003:14-17) menjelaskan bahwa guru dalam pembelajaran berbasis masalah mempunyai beberapa peran, yaitu: (1) mendesain kurikulum; (2) memandu siswa dalam pembelajaran; (3) sebagai evaluator tentang efektivitas masalah, kinerja siswa, dan kinerja guru. Sedangkan peran siswa dalam pembelajaran berbasis masalah adalah: (1) mengatur belajarnya sendiri, menuntun mereka belajar sepanjang hayat; (2) mencari, menyeleksi, dan memanfaatkan sumber daya yang tepat dan paling baik; (3) berfikir kritis dan klinis; (4) berperilaku secara profesional yang tepat; (5) meliputi prinsip-prinsip eti dan legal dalam praktik; (6) bekerja dalam grup dan tim; (7) berkomunikasi secara jernih dan profesional dalam bentuk ucapan dan tulisan; dan ( 8 ) berfikir proaktif.

Arends (2004, dalam Dasna dan Sutrisno) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh pebelajar yang diajar dengan PBL yaitu: (1) inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah, (2) belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors), dan (3) ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning).

Siswa akan berusaha menemukan sendiri konsep-konsep yang dipelajari dan langsung menggunakan konsep-konsep tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Siswa juga menggunakan cara-cara orang dewasa dalam belajar, artinya siswa harus lebih aktif, tidak terlalu tergantung pada guru. Siswa yang melakukan inkuiri dalam pembelajaran akan menggunakan ketrampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skill) dimana mereka akan melakukan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi, dan reasoning. PBL juga bertujuan untuk membantu pebelajar siswa/mahasiswa belajar secara mandiri..

Dasna (2008) membagi pembelajaran berbasis masalah menjadi 5 (lima) langkah, yaitu: (1) mengorientasikan siswa pada masalah; (2) mengorganisasi siswa untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan individu dan kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.

PENUTUP.

Pembelajaran I2M3 adalah kondisi yang ideal. Untuk mewujudkannya memerlukan waktu. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Yang penting, guru harus punya kemauan untuk mencapainya. Guru dapat memulai dengan selalu melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan. Jika merasa ada kekurangan, berusaha memperbaikinya dengan melakukan perubahan-perubahan berdasarkan teori-teori dan hasil-hasil penelitian. Inilah dikenal dengan pengajaran reflekrif atau reflective teaching.

Pengajaran reflektif akan mendorong guru selalu mengkaji dan meneliti pembelajarannya. Ia tidak akan bekerja sendiri, tetapi berkolaborasi dengan teman sejawatnya. Kerja kolaboratif ini penting dibudayakan. Mulai dari guru-guru di satu madrasah dalam bentuk musyawarah guru mata pelajaran madrasah (MGMPM), maupun dalam skala lebih luas se Kabupaten/Kota (MGMP) Kabuapten/Kota. Dengan kerja kolaboratif, akan mengatahui kelemahan-kelemahan guru. Kelemahan itu diperbaiki dengan merancang pembelajaran yang inovatif menuju pembelajaran I2M3 yang idel. Insya Allah.

Rujukan

Brooks, J.G., Brooks, M.G. 1993. In Search of Inderstanding The Case for Constructivist Classrooms, Alexandria, Virginia, ASDC

Dahar, Ratna, Wilis. 1988. Teori-Teori Balajar, Jakarta, P2LPTK, Dirjen Dikti, Depdiknas.

Dasna, I.W., Sutrisno. 2008. Pembelajaran Berbasis Maslah (Problem Base Learning). Lubisgrafura/wordpress.com/htm. Diakses tanggal 30 April 2008.

Degeng, I.N.S. 2001. Teori Pembelajaran 2, Terapan, Jakarta, Program Magister Manajemen Pendidikan Universitas Terbuka.

Degeng, I.N.S. 2007. Orkestra Belajar-Mengajar Sukses: Indikator Guru Profesional dan Kompeten Memasuki era KTSP, Makalah disajikan dalam Seminar Pendidikan bagi Guru Sekolah Dasar dan Menengah, FMJJ, Jombang, 9 September

Degeng, I.N.S. 2005. Paradigma Baru Membangun Kewibawaan Guru dalam pengembangan Profesi di Era Global, Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan bagi Guru Sekolah Dasar dan Menengah, UNIPA, Madiun, 10 September

Delisle, Robert. 1997. How to Use Problem-Base Learning in the Classroom. Alexandria, Virginia. ASCD

Depdiknas, 2003, Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan, Jakarta

Depdiknas, 2007, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 41 tahun 2007, tentang Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta

Irawan, P, Suciati, Wardani, I.G.A.K. 1995. Teori Belajar, Motivasi, dan Ketrampilan Mengajar, Jakarta, Pusat Antar Universitas, Direjen Dikti, Depdikbud.

Nur, Muhammad. 2004. Pembelajaran Koperatif. Surabaya. Pusat Sain dan Matematika Sekolah, UNESA

Nur, Muhammad. 2005. Guru yang Berhasil dan Model Pengajaran Langsung. Surabaya. LPMP Jawa Timur, Dirjen Mandikdasmen, Depdiknas.

Sagala, Saiful. 2003. Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung, Alfabeta.

Slavin, Robert. E. 1994. Educational Psychology, Theory and Practice. Massacussett. Allyn and Bacon.

Suparno, Paul. 1997, Filsafat Konstruktivisme dalam Pembelajaran, Yogyakarta, Kanisius.

Winata, S.U. dan Rosita, Tita. 1994. Belajar dan Pembelajaran Modul 1-6, Jakarta, Proyek Peningkatan Mutu Guru Setara DIII, Direjen Dikdasmen, Depdikbud

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: